Kamis, 19 Juni 2008

Sikat Gigi Tepat

Kamis, 19 Juni 2008 | 13:37 WIB

Apa pertimbangan Anda memilih dan membeli sikat gigi? Ini mungkin masalah sederhana, tapi banyak yang mengabaikannya. Kebanyakan orang membeli sikat gigi dengan pertimbangan harga atau terpengaruh iklan. Tidak salah memang. Namun, pemilihan sikat yang salah bisa menimbulkan berbagai keluhan.

Anda bisa menggunakan tips berikut sebagai pedoman dalam membeli sikat gigi.
1. Pilih bulu sikat yang halus. Bulu sikat kasar bisa merusak lapisan gusi, sehingga membuat gigi lebih sensitif terhadap makanan atau minuman yang dingin atau panas.

2. Bila ingin membeli sikat gigi berpenutup, pastikan penutupnya memiliki ventilasi udara. Jika tidak, sikat gigi akan ditumbuhi bakteri karena lembab.

3. Sesuaikan ukuran sikat gigi dengan rongga mulut agar Anda bisa menggosok bagian yang sulit terjangkau.

4. Sebaiknya pilih sikat gigi yang pegangannya cukup lebar agar Anda lebih nyaman saat menggenggamnya.
5. Pilih kepala sikat berbentuk oval karena bisa melindungi gusi dari kemungkinan terluka.

6. Jika ingin membeli sikat gigi elektrik, ketahuilah, kelebihan sikat gigi ini hanya menggosok lebih cepat. Lebih baik gunakan sikat gigi konvensional saja, kecuali Anda butuh menggosok gigi secara kilat.

7. Ganti sikat gigi tiga bulan sekali atau ketika bulunya sudah terasa tak nyaman agar tak melukai gusi.

Sumber:Kompas.com

RAPBN 2009 Akan Cerminkan Kebijakan Energi Indonesia

Kamis, 19 Juni 2008 | 13:39 WIB

JAKARTA,KAMIS - Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2009 akan mencerminkan kebijakan energi Indonesia dengan dimasukkannya asumsi energi di luar minyak seperti gas. "Urgensinya untuk penunjukan energy policy kita. Kita tidak hanya berkonsentrasi pada minyak tapi juga gas karena gas juga memberikan penerimaan bagi APBN," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu, Anggito Abimanyu seperti dikutip Antara usai rapat tertutup panitia kerja (panja) Panitia Anggaran DPR di Jakarta, Rabu (18/6) malam.

Menurut Anggito, gas juga bisa menghemat subsidi sehingga perlu langkah-langkah optimalisasi pengelolaannya dengan memasukkannya sebagai asumsi dalam APBN. Ia juga memastikan adanya tambahan penerimaan negara dari gas apalagi dengan volume ekspor gas yang cukup besar. "Berapa besar jumlah penerimaannya saya tidak tahu pasti karena itu kan ada kontrak yang bermacam-macam, tidak seperti minyak yang lebih simpel," katanya.

Ia menyebutkan, selama ini pemerintah sudah memperhitungkan produksi gas sebagai referensi untuk menghitung penerimaan negara, namun belum terlalu detil apalagi menjadi asumsi tersendiri. Menurut Anggito, tujuan memasukkan asumsi terkait gas juga untuk transparansi kebijakan energi sehingga terbuka bagi publik dan akhirnya menarik investasi di bidang itu. "Jadi pemerintah tidak hanya fokus pada minyak saja tapi gas juga. Potensi gas kita cukup besar, minat investasi juga cukup besar, sementara untuk batubara penerimaannya tidak banyak, batubara lebih dipergunakan untuk pembangkit listrik," katanya.

Ketika ditanya apakah sudah dapat dipastikan asumsi gas sudah dapat masuk dalam APBN 2009, Anggito mengatakan, sebenarnya tidak sulit untuk memasukkan asumsi itu. "Tapi nanti kita lihatlah, kita minta menteri ESDM melakukan perhitungan," katanya.

Sumber:Kompas.com

Kenikmatan Kepiting Bumbu Rahasia

Kamis, 19 Juni 2008 | 12:32 WIB

Mencari pengganjal perut di "gudang" makanan di kawasan Pancoran, Glodok, Jakarta Barat, tidak lah sulit. Jika rajin menelusuri jalan di kawasan itu, maka akan ada saja makanan unik ditemukan. Akan ada banyak cerita di balik keberadaan warung-warung makan di sana.

Maklum, usia warung itu rata-rata sudah puluhan tahun. Jika ditambah makanan non halal, yang sangat mudah ditemukan di sana, kumpulan makanan di tempat ini lebih dari cukup untuk menyebut kawasan itu sebagai pusat wisata kuliner.

Dibandingkan jalur wisata kuliner Sabang, Jakarta Pusat, makanan yang ditawarkan di Pancoran jauh lebih beragam. Lebih dari itu, kawasan ini menawarkan suasana dan nuansa lain sebagai kawasan Kota Tua.

Sayangnya kawasan itu hanya hidup jika matahari masih mencorong saja. Begitu matahari lelap, tempat ini hanya sedikit hidup dengan sedikit warung yang buka hingga sekitar pukul 22.00 saja.

Padahal sebelum kerusuhan Mei 1998 terjadi, tempat ini hidup hingga lewat tengah malam. Apalagi ketika bioskop di kawasan ini masih beroperasi, bisa dibilang tempat ini hidup 24 jam sehari.

Salah satu dari sedikit warung atau pedagang yang mulai berdagang mulai sore hingga pukul 22.00 adalah Warung Kepiting Soka. Letaknya di ujung Jalan Pancoran, di mulut Jalan Pancoran IV, dan tak jauh dari Jalan Toko Tiga serta Jalan Pintu Kecil.

Di dekat gardu di lokasi itu, Andri Kustanto, dengan tekun setiap menjelang petang masih terus melanjutkan warung warisan Kam Bun Ciau, sang ayah.

Kepiting soka, bukanlah satu-satunya menu makanan yang ditawarkan di warung tenda ini. Kerang dan keong macan bisa jadi cemilan. Nasi tim, bubur, hingga rujak shanghai pun bisa dinikmati di sini. Tapi bisa dibilang, sejak 61 tahun lalu, kepiting soka yang digoreng kering yang menjadi primadona.

Buat mereka yang belum paham apa itu kepiting soka, ini adalah kepiting yang sedang berganti kulit sehingga semua cangkangnya bisa dilepas dengan mudah untuk kemudian tersisa daging saja.

Daging kepiting inilah yang kemudian diberi bumbu rahasia yang sudah berusia lebih dari setengah abad, selanjutnya digoreng dalam minyak panas hingga kering. Rasanya krenyes krenyes renyah seperti keripik, gurih, dan semua bagian kepiting soka bisa dimakan.

Soal harga tentu saja tergantung ukuran. Paling murah Rp 20.000/ekor dengan berat kepiting sekitar 1,5 ons. Tapi kepiting soka di sini rata-rata berukuran 2 ons dengan harga Rp 30.000.

"Kadang ada juga yang ukuran setengah kilogram tapi jarang," ujar Andri.

Untuk merasa puas pelanggan biasanya makan dua sampai tiga ekor kepiting. Sebab ukuran kepiting soka mungil sehingga makan sepotong tak kan pernah cukup. Kepiting soka segar yang setiap hari menanti pelanggan, diambil dari Bone, Banjarmasin, Balikpapan, dan Lampung.

"Kami jual fresh semua. Kalau sampai ada lebih, kita kupas, kita jual ke restoran. Besok kita beli lagi yang fresh," kata Andri.

Selain kepiting soka, ada pula keong macan. Ini hanya tambahan untuk ngemil sambil menunggu makanan disajikan. Kerang itu disebut keong macan karena rumah atau kulitnya bercorak bagaikan kulit macan rasa dagingnya kenyal.

Selain kepiting soka, menu lain yang juga legendaris adalah rujak shanghai. Di seputaran Pancoran Glodok ada dua pedagang rujak shanghai, selain racikan Kam Bun Ciau, ada juga rujak shanghai Encim yang terkenal.

Menurut Andri, ketika pertama kali ayahnya membuka kedai, kepiting soka dan rujak shanghai adalah menu pertama yang dijual dan hingga kini paling banyak dicari. Sekali lagi, jangan salah waktu karena warung ini tak buka di siang hari. Warung ini mulai buka pukul 17.00 sampai sekitar pukul 22.00 setiap hari.

Sumber:kompas.com

Biar Hemat, Mobil Presiden Dipasangi Tabung Hidrogen

Kamis, 19 Juni 2008 | 14:03 WIB

JAKARTA,KAMIS - Joko Sutrisno, penemu cara menghemat bahan bakar dengan menggunakan air mengaku telah memasangkan dua tabung hidrogen di mobil Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Tabung itu dipasangnya pada tanggal 8 Juni yang lalu. Pada saat itu, Joko mengaku, Presiden ingin mencoba saja temuan baru Joko. "Saya cuma bingung, ini mobil nggak perlu beli bensin kok pakai menghemat segala," ujar Joko sambil terkekeh, ketika ditemui Kompas.com, Kamis (19/6).

Joko mengatakan bahwa Presiden biasanya tidak perlu membeli bahan bakar, cukup menukarkan suatu kartu tertentu di tempat-tempat pengisian bahan bakar.

Temuan Joko memang membuat orang berbondong-bondong menghubungi Joko dan mendatangi rumahnya untuk memiliki tabung hidrogen jadi dan mengetahui cara pembuatan tabung serta proses elektrolisa yang dilakukannya. Terhitung, setiap hari dia memasang tabung pada sekitar 25 mobil dan 50 motor sejak dirinya tampil di salah satu stasiun televisi untuk memperkenalkan temuannya.

Rekan-rekannya yang sudah cukup menguasai setelah diajarinya sudah tersebar di beberapa daerah lain, seperti Pekalongan, Jakarta, Cibubur, dan sebentar lagi Lampung. Salah satu rekannya yang juga belajar padanya, Hasyim 'membuka cabang' di Pekalongan bahkan terbuka menangani permintaan untuk kapal laut. Selain itu, untuk memenuhi pesanan tabung hidrogen jadi, dia memberdayakan ibu-ibu PKK di daerahnya di Pakuncen."Sebenarnya saya tidak berniat jual, tapi justru mereka bisa membuat sendiri, tapi karena ada orang-orang yang mau barang jadi, saya minta divisi lain, yang ngerjain ibu-ibu PKK. Hitung-hitung bisa bikin lapangan kerja sendiri," ujar Joko.

Memang, keberhasilan temuan Joko untuk menghemat pemakaian BBM telah dibuktikan oleh rekan-rekannya tersebut sehingga mereka penasaran dan kembali kepada Joko untuk mencari tahu. Rekannya di Jakarta yang bernama Ronald yang menggunakan Mercedes-Benz tua mengakui penggunaan bahan bakarnya sejak menambahkan hidrogen berubah dari 1 liter per 5 km menjadi 1 liter per 9 km.

Sumber:Kompas.com

Air Dapat Menghemat Pemakaian Bahan Bakar

Kamis, 19 Juni 2008 | 13:49 WIB

JAKARTA,KAMIS - Tingginya potensi tenaga ledakan yang dapat dihasilkan oleh hidrogen menunjukkan betapa hidrogen memiliki potensi yang besar pula untuk menggerakkan mesin mobil atau motor. Dengan tarikan sedikit saja, mesin sudah bisa meluncur dengan cepat.

Belum lagi fakta bahwa tarikan yang sedikit membuat bahan bakar yang digunakan makin sedikit. Maka bukan hal yang gendeng jika Joko Sutrisno, warga Pakuncen Yogyakarta menggabungkan air dengan bahan bakar bensin ataupun solar untuk menghemat pemakaian bahan bakar. Berbekal air suling, Kalium Hidroksida (KOH), dan beberapa alat, Joko yakin dapat menghemat pemakaian bahan bakar hampir 80 persen.

"Bahan peledak bensin jika ditambah hidrogen, daya ledaknya jadi luar biasa. Pedal nggak usah kuat-kuat ditekan, kecepatannya sudah sama. Tentu saja berpengaruh ke sedotan bensin oleh mesin," ujar Joko ketika ditemui Kompas.com di Hotel Maharaja, Jakarta, Kamis (19/6). Dalam demo yang dilakukannya di depan Kompas.com di halaman parkir Hotel Maharaja, Joko menunjukkan 'khasiat' hidrogen dalam menghasilkan ledakan dan daya dorong pada potongan mesin motor.

Hasilnya, dahsyat. Ledakannya cukup kuat dan dorongannya sangat cepat. Ledakan yang kuat dan dorongan yang sangat cepat itu sebenarnya dihasilkan oleh hidrogen yang telah terperangkap dalam air sabun pada demo ini. Begitu pula yang akan terjadi pada mesin mobil misalnya.

Campuran air suling dan KOH yang diberi listrik akan memisahkan gas hidrogen dan oksigen. Kemudian gas hidrogen dialirkan ke manipol sehingga bertemu dengan gas dari bensin atau solar yang sudah dibakar. Kemudian campuran kedua gas ini akan masuk ke piston dan diledakkan oleh busi sebagai pemantiknya.

"Air yang harus digunakan harus air suling, biasanya Aquades atau air hujan sekalian. Perbandingannya, satu liter air, ditambah kira-kira tiga gram KOH," ujar Joko. Campuran air suling dan KOH memang memerlukan tempat khusus sehingga Joko membuat tabung-tabung sederhana yang telah dirakit dengan alat-alat lain, seperti elektroda.

Untuk mobil, tabungnya berbentuk botol aki yang berbentuk kotak, sedangkan untuk motor, tabungnya berbentuk tabung botol kecap yang biasa ditemui di rumah-rumah makan.

"Tabungnya harus dari plastik tapi jangan tebal supaya kalau terjadi ledakan tidak terlalu berbahaya," ujar Joko. Resiko ledakan sama sekali tidak menimbulkan api dan panas karena memang begitulah sifat hidrogen. Selain itu, ledakan juga selalu mengarah ke atas, bukan ke samping sehingga memperkecil resiko merusak habis tabung tersebut.

Demo yang dilakukan Joko Sutrisno dilakukan hampir bersamaan dengan demo yang juga dilakukan Djoko Suprapto di Nganjuk, Jawa Timur. Teknologi yang diperlihatkan keduanya ternyata mirip, bukan mengubah menjadi bahan bakar, melainkan hanya menggunakan air untuk menghemat penggunaan bahan bakar.

Sumber:Kompas.com

Djoko Gagal Ubah Air Jadi Energi

Kamis, 19 Juni 2008 | 13:12 WIB

Laporan wartawan Kompas Runik Sri Astuti

NGANJUK, KAMIS - Djoko Suprapto, pria yang mengklaim diri sebagai penemu blue energy, ternyata tidak bisa membuktikan sesumbarnya yang mampu mengubah air menjadi bahan bakar minyak. Dari tiga alat penemuannya yang diperagakan, tidak ada satupun yang mampu merubah air jadi bahan bakar secara langsung. Joko ternyata hanya bisa menjiplak penemuan Joko Sutrisno asal Yogyakarta yang sudah dipublikasikan secara luas.

Penemuan itu adalah penghematan penggunaan bahan bakar minyak dengan cara dicampur air. Sebelumnya air ini diberi katalisator seperti disuling yang bisa memisahkan unsur hidrogen dari air. Hidrogen inilah yang dicampurkan ke dalam bahan bakar minyak. Segala jenis BBM bisa dicampur hidrogen.

Pada Kamis (19/6) pagi di Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Djoko Suprapto memperagakan tiga liter solar dicampur tujuh liter air yang disuling dan diambil uapnya. Uap inilah yang dicampurkan ke solar lalu dialirkan ke generator dan dipakai untuk menyalakan genset.

Genset menyala selama 30 menit kemudian mati karena mesin terlalu panas. Uji coba yang sama dilakukan pada mesin mobil yang sudah dicopot dari rangkanya. Bahan bakar yang digunakan adalah bensin. Dengan komposisi perbandingan yang sama, mesin mobil menyala.

Alat ketiga yang diperagakan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Mandiri. Pembangkit ini diklaim mampu menghasilkan 10.000 watt dari tegangan 9 volt. Tidak ada penjelasan mengenai bahan bakar pembangkit. Pada peragaan alat yang pertama sampai alat yang ketiga, tidak ada penjelasan teknis. Juru bicara Joko Suprapto, Catur Suryadi, juga tidak bisa memberikan penjelasan ilmiah. Bahkan saat ditagih mana alat yang bisa mengubah air menjadi bahan bakar, ia bilang masih dalam proses pembuatan.

Sumber:Kompas.com

UGM Tawarkan Reksadana

Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan PT Lautandhana Investment Management (LIM), menawarkan investasi bagi masyarakat luas melalui penerbitan reksadana UGM Fund. "Reksadana yang akan diluncurkan pada Juli 2008 ini ditargetkan mampu menarik investasi sebesar Rp 2,5 triliun," kata Ketua Komite Investasi UGM Fund, Nasyith Madjidi, dalam keterangan persnya di Jakarta, Kamis (19/6).

Ia menjelaskan, dengan berinvestasi dalam reksadana UGM Fund, investor selain akan memperoleh pengembalian dana (return) juga turut berkontribusi dalam pengembangan pendidikan nasional. UGM Fund ditujukan sebagai jembatan penghimpunan dana jangka panjang guna mendukung dana beasiswa, pengembangan kegiatan pendidikan dan fasilitas kampus, kegiatan kemahasiswaan dan pengabdian masyarakat. "Diharapkan dengan banyaknya investor yang terlibat akan ikut mendorong terciptanya biaya pendidikan yang murah dan terjangkau bagi masyarakat," jelas Nasyith.

Selain Nasyith Majidi, Komite Investasi UGM Fund beranggotakan Ainun Na’im, mantan Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero) dan A. Tony Prasetyantono, Chief Economist Bank BNI.

Rektor UGM, Prof Ir Sudjarwadi Ph.D menyatakan, reksadana UGM Fund merupakan salah satu sumber penggalangan dana abadi dalam rangka menjadikan UGM yang mandiri dan berkomitmen untuk kepentingan rakyat, dan terus maju sebagai research university. "Kami berkeinginan untuk menggalang dana abadi dari berbagai sumber yang terus tumbuh dan berkembang," paparnya.

Sudjarwadi mengajak para simpatisan UGM dan semua pihak yang memiliki komitmen untuk memajukan pendidikan di Indonesia untuk menjadi investor reksadana UGM Fund.

Reksadana campuran yang sudah memperoleh izin efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) tanggal 8 April 2008 tersebut, menawarkan beragam pilihan investasi. Pertama, Platinum Investor dimana seluruh hasil investasi akan disalurkan kepada rekening dana abadi UGM, sedangkan sisa pokok investasi tetap menjadi milik investor.

Kedua, Gold Investor berupa skim investasi yang 50 persen dari hasil investasinya disalurkan ke rekening dana abadi UGM, sedangkan pokok serta 50 persen investasi milik investor. Ketiga, Silver Investor, dimana 15 persen dari hasil investasi akan disalurkan kepada rekening dana abadi UGM, dan 85 persen hasil investasi dan pokoknya milik investor.

Ada juga jenis investasi Evergreen Investor yang seluruh pokok dan imbal hasilnya menjadi dana abadi UGM. Sementara skim Regular Investor, tidak lain sebagaimana reksadana pada umumnya, yaitu pokok dan imbal hasil seluruhnya milik investor dan UGM hanya memperoleh bagian management fee.

Direktur Utama LIM, Ahmad Subagja, menyatakan reksadana UGM Fund tersebut akan dikelola secara prudent namun progresif. Sehingga, investasi tersebut aman namun tetap memperoleh return yang signifikan untuk investor dan pengembangan pendidikan nasional, khusunya UGM.

UGM Fund antara lain akan ditanamkan pada saham-saham blue chip, obligasi, Surat Utang Negara (SUN) dan instrumen investasi lainnya secara prudent namun progresif. "UGM Fund akan dikelola secara profesional dan transparan antara lain dengan mengumumkan nilai aktiva bersih (NAB) harian dan pelaporan berkala," katanya.


Sumber:Kompas