Kamis, 19 Juni 2008

Obligasi Global Angkat Kepercayaan Investor Asing

Jumat, 20 Juni 2008 | 07:52 WIB

JAKARTA,JUMAT - Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A Sarwono, Kamis (19/6) di Jakarta, mengungkapkan, keberhasilan Indonesia dalam lelang obligasi global senilai 2,2 miliar dollar AS telah mengangkat kepercayaan investor terhadap pasar keuangan dan perekonomian Indonesia. Itu terindikasi dari besarnya arus masuk dana asing di pasar spot yang mencapai 566 juta dollar AS (neto) pada hari Rabu (18/6).

Menurut Hartadi, masuknya dana asing yang cukup besar itu bisa membantu mengurangi tekanan kurs kemarin karena dapat menutup besarnya pembelian valas oleh korporasi domestik yang mencapai 240,13 juta dollar AS, termasuk pembelian oleh Pertamina.

Bahkan, derasnya aliran dana asing sempat membuat kurs rupiah pada Rabu menguat 0,23 persen ke posisi 9.285 per dollar AS. Penguatan rupiah itu terpantau di tengah tekanan depresiasi terhadap hampir semua mata uang regional. Nilai ringgit Malaysia jatuh tajam ke 3.260 per dollar. Begitu pula dengan won Korea dan baht Thailand.

Pada penutupan perdagangan Kamis, kurs tengah BI berada pada posisi Rp 9.290 per dollar AS, melemah tipis dibandingkan dengan penutupan sehari sebelumnya yang Rp 9.285 per dollar.

Hartadi mengatakan, sebagian dana asing yang masuk ditanamkan ke SUN sehingga mendorong kenaikan harga SUN dan menurunkan imbal hasilnya. Tingginya minat beli asing di pasar SUN pada perdagangan Rabu menyebabkan imbal hasil (yield) SUN 10 tahun turun signifikan dari 13,49 persen menjadi 12,94 persen.

Hartadi memperkirakan, kurs rupiah berada dalam tren menguat seiring masih tertekannya dollar AS akibat memudarnya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed). Ini karena ekonomi AS yang semula diharapkan pulih pada semester II-2008 ternyata kembali dibayangi berlanjutnya kontraksi di sektor perumahan, melemahnya industri manufaktur, kemungkinan membengkaknya kerugian sektor perbankan AS, dan merosotnya kembali kinerja pasar modal.

Pengamat pasar modal dan keuangan, Yanuar Rizky, mengatakan, obligasi global Indonesia laku karena memang imbal hasil yang ditawarkan relatif tinggi. "Selisihnya mencapai 530 basis poin di atas suku bunga The Fed. Padahal, obligasi dollar AS umumnya paling tinggi 100 basis poin di atas The Fed," katanya.

Selain itu, banyak hedge fund asing tengah memburu obligasi dollar AS sebagai syarat mendapat fasilitas pinjaman likuiditas dari The Fed. "Dengan kata lain, Indonesia sebenarnya menyubsidi AS," katanya.

Sumber:Kompas.com

Tidak ada komentar: