Rabu, 28 Mei 2008

AKSI TOLAK KENAIKAN BBM AKAN MELUAS ; Menhan Anggap Hanya Persoalan Kamtibmas

29/05/2008 08:46:31

JAKARTA (KR) - Aksi-aksi mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM tidak mengancam keselamatan bangsa. Menurut Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono, aksi-aksi itu hanya persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Juwono mengatakan hal itu, usai rapat dengan Komisi I DPR tentang RUU Rahasia Negara di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (28/5). Menurutnya, aparat keamanan pada dasarnya selalu menekankan pendekatan persuasif. Menko Polhukam pun terus mengkaji secara mendalam aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa. “Itu masalah keamanan. Tidak ada ancaman Indonesia akan pecah,” tandas Juwono.
Sementara itu Pakar Politik UGM Ari Sujito memprediksikan, aksi unjukrasa mahasiswa di berbagai wilayah menolak kenaikan harga BBM akan semakin meluas dan tak terbendung. “Sebab momentum aksi penolakan kenaikan harga BBM ini sangat tepat dalam kepentingan politik menjelang Pemilu 2009,” ujarnya, Rabu (28/5).
Soal isu yang menyebutkan aksi unjukrasa sudah ditunggangi oleh kelompok tertentu, menurut mantan ketua Dewan Mahasiswa UGM ini, merupakan bahasa yang paling sering digunakan oleh sebuah rezim (pemerintah) ketika kesulitan mengatasi berbagai aksi demonstrasi, seperti yang dilakukan Orde Baru.
“Faktanya, bahasa penunggangan dijadikan alat untuk upaya melakukan tindakan represif. Saya khawatir akan menjadi bumerang bagi rezim itu sendiri,” kata Ari.
Di Semarang tujuh mahasiswa dan masyarakat yang tergabung dalam Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) dan Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) menuntut pemerintah menurunkan harga BBM dengan menggelar aksi mogok makan di depan Kampus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
Ketujuh peserta aksi mogok makan antara lain Lukman, Hengki, Ronny, Frans, Arie, Joneth dan Edis. Aksi mogok makan akan ditindaklanjuti dengan menggelar aksi massa secara besar-besaran yang digelar hari ini, Kamis (29/5) dari kawasan Simpanglima menuju Gedung DPRD dan Kantor Gubernur Jateng. “Aksi massa ini melibatkan 2500 massa buruh, mahasiswa, pegawai serta masyarakat umum,” kata koordinator aksi, Sunu.
Di Jakarta, Universitas Moestopo Beragama membantah kalau penganiayaan terhadap polisi dalam unjukrasa kenaikan harga BBM, Selasa (27/5) lalu dilakukan oleh mahasiswanya.
“Kalau memang harus dibawa ke ranah hukum, tentu kami dukung. Silakan kalau memang mau dibuktikan,” kata Kepala Jurusan Administrasi Negara Universitas Moestopo Beragama, Paiman Raharjo kepada wartawan, Rabu (28/5).
Sehubungan dengan tindak penganiayaan terhadap polisi, Paiman menuturkan bahwa penganiayaan itu dilakukan provokator, bukan oleh mahasiswa Universitas Moestopo Beragama. Terpisah, Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol Dicky Sondani menuturkan, salah satu penganiaya Ipda Henryco Manurung (56) saat unjukrasa itu tampaknya sudah terlatih.
(Ati/Edi/Asp/
Cha/Ful/Sto)-a

Sumber:kr.co.id

Tidak ada komentar: